28 Maret 2008

Thanks for All

Akhirnya perhelatan 3 hari klar sudah.
Rasa capek dan kuatir sudah sirna.
Kami ucapkan terimakasih sebanyak2nya atas bantuan keluarga, saudara, teman2 dan pihak2 lain yang tidak bisa kami sebutkan.
Tidak ada yang bisa kami sampaikan selain ucapan terima kasih sebesar-besarnya.

Semoga Tuhan memberikan berkah, rahmat dan hidayahNya kepada kita semua.

17 Maret 2008

Untuk Suami Isteri

ini juga didapat dari blog tetangga lagi... sorry ya tapi isinya bagus kok..

Di sebuah perjamuan makan malam, banyak tamu undangan yang hadir mengucapkan selamat kepada sepasang kakek dan nenek yang pada hari itu merayakan Ulang Tahun Perkawinan yang ke-50 tahun. Semua tamu yang hadir ikut dalam suasana bahagia, menyaksikan betapa kakek dan nenek tersebut masih saling mencintai meskipun keduanya sudah tidak muda lagi. Banyak pasangan tamu undangan yang berharap kelak akan mengalami hal yang sama. Pada saat jamuan makan mulai seperti biasa tamu-tamu duduk pada meja bundar untuk menikmati makanan yang disediakan.

Pada meja kakek dan nenek tersebut telah terhidang masakan ikan kesukaan mereka berdua. Dengan penuh kasih sayang, seperti kebiasaanya sang kakek mengambil bagian kepala ikan tersebut dan meletakkan ke piring istrinya.

Sang istri terdiam…. Mata nenek tua tersebut mulai berkaca-kaca, dengan terbata-bata berucap :
” Lima puluh tahun lamanya aku menjadi istrimu, selama itu aku selalu mengabdikan seluruh hidupku untukmu, suamiku. Betapa lama kalau kita menghitung hari demi hari yang kita lalui. Betapa panjang perjalanan hidup yang kita jalani bersama. Selama lima puluh tahun kau selalu memberikan kasih sayang dan semua yang kau miliki. Selama itu pula kau selalu memberikan bagian kepala apabila kita menyantap menu ikan, sungguh hal itu yang paling tidak aku sukai, tetapi aku memakannya karena aku menghormatimu dan tidak ingin membuatmu kecewa”

Sang kakek terpana….. . Dengan suara parau dan mata berkaca kakek tersebut berkata :
“Lima puluh tahun aku lalui segala rintangan dan kebahagian bersamamu, istriku . Dulu aku adalah seorang pemuda miskin yang tak berharta, tetapi engkau bersedia menikah denganku. Sejak saat itu aku telah bersumpah akan selalu membahagiakan engkau, aku akan selalu memberikan yang terbaik yang aku mampu sebagai tanda betapa aku sangat mengasihimu dengan segenap hati. Bagian yang paling aku suka dari masakan ikan adalah bagian kepala, oleh karena itu selalu kuberikan kepadamu karena aku selalu ingin memberikan yang terbaik hanya untukmu. Selama bertahun-tahun kita menikah, selama ini kita hidup bahagia meskipun pada awal pernikahan kita hidup sederhana tetapi engkau tak mengeluh. Aku selalu bekerja keras hanya untuk membahagiakan dan memberikan yang terbaik bagimu dan anak anak kita.
Istriku, selama ini kita saling mengasihi, mencintai tanpa henti, tetapi ternyata kita tidak saling memahami “.

Betapa sang nenek harus menelan kekecewaan setiap mendapat kepala ikan hanya untuk membahagiakan sang suami. Betapa kakek harus merelakan bagian kepala ikan yang sangat disukai hanya untuk membahagiakan sang istri.

Si nenek selama 50 th sudah melakukan penundukan diri begitu juga si kakek dia sudah mengasihi si nenek, tapi ternyata ada kekecewaan disana.

Bahkan ada istri yang tunduk dengan suami, sampai dia sangat menurut pada suaminya, apa - apa yang suami katakan di lakukan. Tapi suami dengan sangat gemes mengatakan:
” istriku ga smart, tidak bisa membantu aku dengan ide2 yang cemerlang”

Ada suami yang sangat mengasihi istrinya, sampai-sampai apa- apa yang istrinya inginkan dia berikan, tapi si istri malah kesel dan mengatakan:
” suamiku ga tegas, ga punya pendirian”

Why ? Kenapa ?
Karena semuanya dengan caranya sendiri, si nenek tunduk dengan caranya sendiri, si kakek juga mengasihi dengan caranya sendiri tanpa memperdulikan pasangannya
Masing2 lupa cari tau atau bertanya pada pasangannya ” Apa yang kamu inginkan?”
Jadinya masing-masing menjadi manusia yang sok tau.

Supaya tidak menjadi manusia sok tau, kita lihat apa-apa yang perlu diketahui dan dikerjakan hingga dapat menyenangkan kedua belah pihak.

Apa yang Harus Diketahui Istri Mengenai Suaminya
Kebutuhan suami yang paling mendasar dalam pernikahan adalah:

a. DIKAGUMI.

Suami mengukur harga dirinya melalui apa yang sudah dicapai, besar atau kecil hasil yang dicapai membutuhkan pengakuan dari istrinya.Pengaguman adalah bahan bakar yang dibutuhkan pria untuk lebih maju karena memberikan kekuatan. Tetapi perlu diingat, jangan pernah berpura-pura mengagumi dengan kata-kata pujian. Sebaiknya agar pengaguman istri benar-benar memiliki nilai, pujian itu harus tulus tercermin dalam perasaan yang sesungguhnya.
b. PERLU OTONOMI.

Sebagian kebutuhan otonomi adalah memberi ruang untuk suami (kebutuhan untuk menyendiri). Ada istri mengeluh karena suami mereka tidak segera menceritakan hal-hal yang dialami suaminya apabila sampai di rumah sepulang dari kantor. Tanpa menyadari suami ingin membaca koran atau menyiram tanaman atau apapun yang dilakukan lebih dahulu untuk menyegarkan pikiran mereka sebelum memulai bercakap-cakap.
c. KEGIATAN BERSAMA.

Seorang pria membangun keintiman dengan cara yang berbeda. Ia membina hubungan dengan melakukan pekerjaan secara bersama-sama. Misalnya bekerja di kebun, melakukan pekerjaan rumah, pergi nonton bersama istrinya. Suami menjadikan istri sebagai teman. Hal ini sangat baik apabila istri ikut dalam kegiatan bersama tersebut.
d. STRUKTUR OTAK PRIA

i. Otaknya terkotak-kotak dan mampu memilah-milah informasi yang masuk. Di malam hari, setelah seharian penuh beraktivitas, cowok bisa menyimpan semuanya di otaknya yang ter kotak-kotak. membuat dia tidak suka curhat, semuanya dapat disimpan dalam kotak2 yang ada.

ii. Kemampuan berbicara dan bahasa itu bukan kemapuan otak yang kritis. Adanya cuma di otak kiri dan tidak ada area yang spesifik. Jadinya pria cuma bisa menghabiskan 7ribu kata dalam sehari setelah itu dia tidak mood lagi untuk bicarakebayangkan kalau seharian diluar rumah sudah menghabiskan 7000 kata, sampai dirumah tinggal diamnya.

iii. Sedikit sekali jaringan yang menghubungkan otak kiri dan kanan. Kalo dia lagi baca koran atau nonton TV, dia tidak bisa dengar apa yang dikatakan istrinya , sebab saat dia baca seketika itu juga dia jadi tuli

“Isteri terpanggil untuk tunduk kepada suami, yaitu menghargai suami, bukan karena kecakapan atau kekayaannya, tetapi sebab dia adalah suami, yang adalah kepala untuk rumah tangga. Dia payung bagi keluarga. Dia yang melindungi Dan bertanggungjawab atas keluarga, Bagaimanapun dia adalah manusia yang tidak sempuma, yang perlu. Ditopang, didukung, dihargai, dihormati”

Apa yang Perlu Diketahui Setiap Suami Mengenai Istrinya
Kebutuhan istri yang paling mendasar dalam pernikahan adalah

a. DICINTAI.

Apa yang dapat dilakukan seorang suami untuk menunjukkan cintanya kepada istrinya ? Pikirkan ungkapan “Aku Mencintaimu”. Bagi beberapa pria merasa tidak perlu untuk mengucapkan kata tersebut, tetapi bagi seorang istri butuh (ingin mendengar) ungkapan tersebut dari suaminya.

b. DIMENGERTI.

Bagi wanita dimengerti berarti menerima perasaan-perasaannya, misalnya mendengarkan, memahami dan merepleksikan apa yang sedang dipikirkan atau dirasakan oleh pasangan.

c. DIHARGAI.

Menghargai istri berarti menghargai dan mendukung keputusan-keputusan dalam memenuhi impiannya. Untuk memulainya, jangan berusaha untuk mengubah atau memanipulasinya. Tetapi hormati kebutuhan, keinginan dan nilai-nilai serta haknya. Akibat sikap menghargai ini, seorang istri aka lebih bersikap santai dan terbuka

d. STRUKTUR OTAK
i. Dalam struktur otak cewek, kemampuan untuk berbicara terutama ada dibagian depan otak kiri dan sebagian kecil di otak sebelah kanan, wanita bisa bicara 20ribukata dalam sehariè jangan heran kalau cewek seneng ngomong.

ii. Otak cewek tidak terkotak-kotak, informasi atau masalah yang diterimanya akan terus berputar-putar dalam otaknya, ini nggak akan berhenti sampe dia bisa mencurahkan isi otaknya alias curhatè Oleh sebab itu, kalo cewek bicara, tujuannya adalah untuk mengeluarkan uneg-unegnya

iii. Bisa pakai 2 sisi otaknya secara bersamaan è bisa telpon, pada saat memasak, sekaligus gendong anak. Atau dia bisa nyetir, dandan, dengerin radio dan bicara lewat hands-free.

“Suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu. Hiduplah dengan pengertian terhadap perasaannya, sebab wanita biasa main perasaan. Jangan sakiti atau kecewakan perasaannya. Apa yang anda lakukan atau ucapkan, untuk kesalahan yang kecil, itu dapat disimpan lama dalam memorinya

Kesalahan yang Dilakukan oleh Pasangan Suami Istri
a. MENGKRITIK.

merupakan tindakan yang menyerang kepribadian seseorang, misalnya menyalahkan dan membuat sebuah serangan pribadi atau tuduhan. .
b. MEMBELA DIRI.

Sering kali merupakan hal yang membabi buta
c. MEMBISU.

Membisu seringkali dianggap sebagai usaha agar tidak membuat persoalan semakin buruk. Tetapi tanpa kita sadari membisu adalah tindakan yang sangat berpengaruh. Tindakan tersebut menyatakan suatu penghinaan, sikap dingin dan keangkuhan yang bisa membuat pernikahan menjadi rapuh.

Bagaimana dengan BERTENGKAR apakah bukan suatu kesalahan?
Tidak adanya konflik, dalam rumah tangga bukanlah tanda yang baik bagi pernikahan. Pasangan yang menolak menerima konflik sebagai bagian dari pernikahan akan kehilangan kesempatan untuk mendapat tantangan. Jadi konflik adalah wajar dan tidak lagi selalu menggambarkan suatu krisis, melainkan sebuah kesempatan untuk berkembang.
Pertengkaran dalam pernikahan adalah untuk saling mangasah dan menanjamkan, membuat 2 pribadi makin bijaksana.

Apa yang dilakukan jika terjadi pertengkaran ?
a.Jangan lari dari pertengkaran.

b. Terangkan masalah dengan jelas. Ketika merasa suasana memanas, mintalah pasangan supaya menjelaskan penyebab pertengkaran tersebut sehingga masing-masing dapat memahami masalahnya.

c. Nyatakan perasaan kita secara langsung. Memberikan tanggapan kepada apa yang dilakukan pasangan jauh lebih baik daripada tidak memberikan tanggapan untuk membela diri terhadap hal yang tidak membawa kemajuan.

Kebahagiaan dalam rumah tangga bukan sesuatu yang datang dengan sendirinya. Tetapi kebahagiaan harus diusahakan oleh kedua belah pihak, bukan dengan saling menuntut atau saling memaksa, tetapi dengan saling memahami, saling memberi atau saling memperhatikan, bahkan saling berkorban.Sukses di dalam pernikahan bukan meminta atau menuntut pasanganmu menjadi orang yang tepat, tetapi jadilah orang yang tepat untuk pasanganmu.

05 Maret 2008

Dua orang baik...mengapa bukan perkawinan bahagia?

Maaf ya ini saya juga dapat dari blog sebelahnya lagi banyak blog yang telah memuatnya .. hehe2 tapi isinya bagus kok disimak aja deh ...

Cerita dibawah ini sangat menarik....kesulitan terbesar adalah untuk bisa melihat segalanya tidak hanya dari sudut pandang kita namun dari sudut pandang orang lain (juga), seringkali kita menganggap apa yang "benar" menurut kita harus diakui sebagai kebenaran oleh yang lainnya......hal ini yang kadang membuat komunikasi tidak berjalan dengan baik...at the end, cara paling aman adalah menghindari konflik, yang tanpa disadari malah akan "menumpuk" semua permasalahan......harus terus belajar, untuk memahami dari sudut pandangan pihak lainnya.....tidak mudah memang, namun bisa menjadi hal yang sangat menyenangkan.

Dua orang yang baik, tapi, mengapa perkawinan tidak berakhir bahagiaIbu saya adalah seorang yang sangat baik, sejak kecil, saya melihatnyadengan begitu gigih menjaga keutuhan keluarga. Ia selalu bangun dinihari, memasak bubur yang panas untuk ayah, karena lambung ayah tidak baik,pagi hari hanya bisa makan bubur. Setelah itu, masih harus memasak sepanci nasi untuk anak-anak, karena anak-anak sedang dalam masa pertumbuhan, perlu makan nasi, dengan begitubaru tidak akan lapar seharian di sekolah.Setiap sore, ibu selalu membungkukkan badan menyikat panci, setiap pancidi rumah kami bisa dijadikan cermin, tidak ada noda sedikit pun. Menjelang malam, dengan giat ibu membersihkan lantai, mengepel seinci demi seinci, lantai di rumah tampak lebih bersih dibanding sisi tempat tidur orang lain, tiada debu sedikit pun meski berjalan dengan kaki telanjang.Ibu saya adalah seorang wanita yang sangat rajin. Namun, di mata ayahku, ia (ibu) bukan pasangan yang baik. Dalam proses pertumbuhan saya, tidak hanya sekali saja ayah selalu menyatakan kesepiannya dalam perkawinan, tidak memahaminya.Ayah saya adalah seorang laki-laki yang bertanggung jawab. Ia tidak merokok, tidak minum-minuman keras, serius dalam pekerjaan, setiap hari berangkat kerja tepat waktu, bahkan saat libur juga masihmengatur jadwal sekolah anak-anak, mengatur waktu istrirahat anak-anak, ia adalah seorang ayah yang penuh tanggung jawab, mendorong anak-anak untuk berpretasi dalam pelajaran.Ia suka main catur, suka larut dalam dunia buku-buku kuno. Ayah saya adalah seoang laki-laki yang baik, di mata anak-anak, ia maha besar seperti langit, menjaga kami, melindungi kami dan mendidik kami. Hanya saja, di mata ibuku, ia juga bukan seorang pasangan yang baik,dalam proses pertumbuhan saya, kerap kali saya melihat ibu menangis terisaksecara diam diam di sudut halaman.Ayah menyatakannya dengan kata-kata, sedang ibu dengan aksi, menyatakan kepedihan yang dijalani dalam perkawinan. Dalam proses pertumbuhan, aku melihat juga mendengar ketidakberdayaan dalam perkawinan ayah dan ibu, sekaligus merasakan betapa baiknyamereka,dan mereka layak mendapatkan sebuah perkawinan yang baik. Sayangnya, dalam masa-masa keberadaan ayah di dunia, kehidupan perkawinan mereka lalui dalam kegagalan, sedangkan aku, juga tumbuh dalam kebingungan, dan aku bertanya pada diriku sendiri : Dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang bahagia?Pengorbanan yang dianggap benar.Setelah dewasa, saya akhirnya memasuki usia perkawinan, dan secara perlahan-lahan saya pun mengetahui akan jawaban ini. Di masa awal perkawinan, saya juga sama seperti ibu, berusaha menjaga keutuhan keluarga, menyikat panci dan membersihkan lantai, dengan sungguh-sungguh berusaha memelihara perkawinan sendiri. Anehnya, saya tidak merasa bahagia ; dan suamiku sendiri, sepertinya juga tidak bahagia. Saya merenung, mungkin lantai kurang bersih, masakan tidak enak, lalu, dengan giat saya membersihkan lantai lagi, dan memasak dengan sepenuh hati.Namun, rasanya, kami berdua tetap saja tidak bahagia. .Hingga suatu hari, ketika saya sedang sibuk membersihkan lantai, suamisaya berkata : istriku, temani aku sejenak mendengar alunan musik! dengan mimik tidak senang saya berkata : apa tidak melihat masih ada separoh lantai lagi yang belum di pel ? Begitu kata-kata ini terlontar, saya pun termenung, kata-kata yangsangat tidak asing di telinga, dalam perkawinan ayah dan ibu saya, ibu juga kerap berkata begitu sama ayah.Saya sedang mempertunjukkan kembali perkawinan ayah dan ibu, sekaligus mengulang kembali ketidakbahagiaan dalam perkwinan mereka. Ada beberapa kesadaran muncul dalam hati saya.Yang kamu inginkan ? Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu memandang suamiku, danteringat akan ayah saya? Ia selalu tidak mendapatkan pasangan yang dia inginkan dalam perkawinannya, Waktu ibu menyikat panci lebih lama daripada menemaninya. Terus menerus mengerjakan urusan rumah tangga, adalah cara ibu dalam mempertahankan perkawinan, ia memberi ayah sebuah rumah yang bersih, namun, jarang menemaninya, sibuk mengurus rumah, ia berusaha mencintai ayah dengan caranya, dan cara ini adalah mengerjakan urusan rumah tangga.Dan aku, aku juga menggunakan caraku berusaha mencintai suamiku. cara saya juga sama seperti ibu, perkawinan saya sepertinya tengah melangkah ke dalam sebuah cerita, dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang bahagia. Kesadaran saya membuat saya membuat keputusan (pilihan) yang sama.Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu duduk di sisi suami, menemaninya mendengar musik, dan dari kejauhan, saat memandangi kain pel di atas lantai seperti menatapi nasib ibu.Saya bertanya pada suamiku : apa yang kau butuhkan ? Aku membutuhkanmu untuk menemaniku mendengar musik, rumah kotor sedikit tidak apa-apa-lah, nanti saya carikan pembantu untukmu, dengan begitu kau bisa menemaniku! ujar suamiku.Saya kira kamu perlu rumah yang bersih, ada yang memasak untukmu, ada yang mencuci pakianmu?.dan saya mengatakan sekaligus serentetan hal-hal yang dibutuhkannya.Semua itu tidak penting-lah! ujar suamiku. Yang paling kuharapkan adalah kau bisa lebih sering menemaniku. Ternyata sia-sia semua pekerjaan yang saya lakukan, hasilnya benar-benarmembuat saya terkejut. Kami meneruskan menikmati kebutuhan masing-masing, dan baru saya sadariternyata dia juga telah banyak melakukan pekerjaan yang sia-sia, kami memiliki cara masing-masing bagaimana mencintai, namun, bukannya cara pihak kedua.Jalan kebahagiaan Sejak itu, saya menderetkan sebuah daftar kebutuhan suami, dan meletakkanya di atas meja buku, Begitu juga dengan suamiku, dia juga menderetkan sebuah daftar kebutuhanku. Puluhan kebutuhan yang panjang lebar dan jelas, seperti misalnya, waktu senggang menemani pihak kedua mendengar musik, saling memeluk kalau sempat, setiap pagi memberi sentuhan selamat jalan bila berangkat.Beberapa hal cukup mudah dilaksanakan, tapi ada juga yang cukup sulit, misalnya dengarkan aku, jangan memberi komentar. Ini adalah kebutuhan suami. Kalau saya memberinya usul, dia bilang akan merasa dirinya akan tampak seperti orang bodoh. Menurutku, ini benar-benar masalah gengsi laki-laki. Saya juga meniru suami tidak memberikan usul, kecuali dia bertanya pada saya, kalau tidak saya hanya boleh mendengar dengan serius, menurut sampai tuntas, demikian juga ketika salah jalan. Bagi saya ini benar-benar sebuah jalan yang sulit dipelajari, namun, jauh lebih santai daripada mengepel, dan dalam kepuasan kebutuhan kami ini, perkawinan yang kami jalani juga kian hari semakin penuh daya hidup. Saat saya lelah, saya memilih beberapa hal yang gampang dikerjakan, misalnya menyetel musik ringan, dan kalau lagi segar bugar merancang perjalanan keluar kota.Menariknya, pergi ke taman flora adalah hal bersama dan kebutuhan kami setiap ada pertikaian, selalu pergi ke taman flora, dan selalu bias menghibur gejolak hati masing-masing.Sebenarnya, kami saling mengenal dan mencintai juga dikarenakan kesukaan kami pada taman flora, lalu bersama kita menapak ke tirai merah perkawinan, kembali ke taman bisa kembali ke dalam suasana hati yang saling mencintai bertahun-tahun silam.Bertanya pada pihak kedua : apa yang kau inginkan, kata-kata ini telah menghidupkan sebuah jalan kebahagiaan lain dalam perkawinan. Keduanya akhirnya melangkah ke jalan bahagia.Kini, saya tahu kenapa perkawinan ayah ibu tidak bisa bahagia, mereka terlalu bersikeras menggunakan cara sendiri dalam mencintai pihak kedua, bukan mencintai pasangannya dengan cara pihak kedua.Diri sendiri lelahnya setengah mati, namun, pihak kedua tidak dapat merasakannya, akhirnya ketika enghadapi penantian perkawinan, hati ini juga sudah kecewa dan hancur. Karena Tuhan telah menciptakan perkawinan, maka menurut saya, setiap orang pantas dan layak memiliki sebuah perkawinan yang bahagia, asalkan cara yang kita pakai itu tepat, menjadi orang yang dibutuhkan pihak kedua! Bukannya memberi atas keinginan kita sendiri, perkawinan yang baik, pasti dapat diharapkan.

01 Maret 2008

14 jalan menuju keluarga sakinah...

Ini juga didapat dari blog tetangga lagi .. hehe2
yang ini 14 lagi langkah menuju keluarga sakinah.. padahal yang dulu 6 berarti ada 20 jalan dong ..
hehe..

1. Selalu bersyukur saat mendapat nikmat

Kalau kita mendapat karunia dari Allah swt. berupa harta, ilmu, anak, dll.,bersyukurlah kepada-Nya atas segala nikmat yang telah diberikan tersebut supaya apa yang ada pada genggaman kita itu berbarakah.

"Sesungguhnya jika kamu bersyukur (atas segala nikmat yang diberikan), pasti Allah akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih." (Q.S. Ibrahim 14 : 7)

2. Senantiasa bersabar saat ditimpa kesulitan
Semua orang pasti mengharapkan bahwa jalan kehidupannya selalu lancar dan bahagia, namun kenyataannya tidaklah demikian. Sangat mungkin dalam kehidupan berkeluarga kita menghadapi sejumlah kesulitan dan ujian; berupa kekurangan harta, ditimpa penyakit, dll. Nah, sabar merupakan fondasi yang harus kita bangun agar keluarga kita tetap bahagia walaupun sedang ditimpa musibah .

"Bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan Allah." (Q.S. Lukman 31: 17)

3. Bertawakal saat memiliki rencana
Allah sangat suka kepada orang-orang yang melakukan sesuatu secara terencana. Nabi Muhammad saw. kalau mau melakukan sesuatu yang penting selalu bermusyawarah dengan para shahabatnya. Musyawarah merupakan bagian dari proses perencanaan. Alangkah indahnya apabila suami-isteri selalu bermusyawarah dalam merencanakan hal-hal yang dianggap penting dalam kehidupan berumah tangga, misalnya masalah pendidikan anak, tempat tinggal, dll. Kalau kita punya suatu rencana, jangan lupa hasilnya kita pasrahkan semua kepada Allah swt., itulah yang disebut tawakal.

"Kemudian, apabila kamu telah membulatkan tekad (menghadapi suatu rencana) maka bertawakallah kepada Allah swt. Sesungguhnya Allah menyukai orang yang bertawakkal." (Q.S. Ali Imran 3: 159)

4. Bermusyawarah
Suami adalah leader atau pemimpin dalam rumah tangga. Seorang pemimpin harus berani mengambil keputusan-keputusan strategis. Alangkah mulia kalau suami sebagai pemimpin
selalu mengajak bermusyawarah kepada isteri dan anak-anaknya dalam mengambil keputusan-keputusan penting yang menyangkut urusan keluarga. Hindarkan diri dari sikap otoriter, insya Allah hasil musyawarah itu akan lebih baik.
"...Dan segala persoalan, diputuskan dengan musyawarah di antara mereka..."
(Q.S. Asy-Syuura 42 : 38)

5. Tolong menolong dalam kebaikan
Menurut Aisyah r.a., Rasulullah saw. sebagai suami selalu menolong pekerjaan isterinya. Beliau tidak segan untuk mengerjakan pekerjaan yang biasa dilakukan wanita seperti mencuci piring/baju, menggendong anak, dll. Nah, kalau kita ingin membangun keluarga yang shaleh, maka suami harus berusaha meringankan beban isteri, begitu juga sebaliknya. Jadikan tolong menolong sebagai hiasan rumah tangga.

"Dan tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebaikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam perbuatan dosa dan pelanggaran ...." (Q.S. Al-Maidah 4 : 2)

6. Senantiasa memenuhi janji.
Memenuhi janji merupakan bukti kemuliaan seseorang. Sedalam apapun ilmu kita, setinggi apapun kedudukan kita, tapi kalau sering menyalahi janji tentu orang tidak akan lagi percaya kepada kita. Bagaimana kita akan menjadi suami yang dihargai isteri dan anak-anak kalau kita sering menyalahi janji kepada mereka?

"Hai orang-orang yang beriman, penuhilah janji-janji." (Q.S. Al-Maidah 4:1)

7. Segera bertaubat bila terlanjur melakukan kesalahan
Dalam mengarungi bahtera rumah tangga, tak jarang suami atau isteri terjerumus pada kesalahan. Itu tidak dapat dipungkiri. Apabila suami/istri melakukan kesalahan, hendaklah segera bertaubat dari kesalahan itu.

"Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui." (Q.S. Ali 'Imran 3 : 135)

8. Saling Menasihati
Untuk membentuk keluarga yang shaleh, tentunya dibutuhkan sikap lapang dada dari masing-masing pasangan untuk dapat menerima nasihat ataupun memberikan nasihat kepada pasangannya.

"Demi waktu. Sesungguhnya manusia itu benar-benar merugi. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati dalam hal kesabaran." (Q.S. Al-'Ashr 103: 1-3)

9. Saling memberi maaf dan tidak segan untuk minta maaf kalau melakukan kekeliruan.

"Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan kesalahan orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan." (Q.S. Ali 'Imran 3 : 134)

10. Suami selalu berprasangka baik
Suami-istri hendaknya selalu berprasangka baik terhadap pasangannya.Sesungguhnya prasangka baik akan lebih menentramkan hati, sehingga konflik dalam keluarga lebih dapat diminimalisir.

"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain." (Q.S. Al-Hujurat 49 : 12)

11. Mempererat silaturrahmi dengan keluarga isteri atau suami.
"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling mengenal." (Q.S. Al-Hujurat 49 : 13)

12. Melakukan ibadah secara berjamaah.
Dengan melaksanakan ibadah secara berjama'ah, ikatan batin antara suami-istri akan terasa lebih erat. Di samping itu, pahala yang dijanjikan Allah pun begitu besar.

"Shalat berjama'ah lebih utama dua puluh tujuh derajat daripada Shalat sendiri-sendiri." (H.R. Mutafaq'Alaihi)

13. Mencintai keluarga isteri atau suami sebagaimana mencintai keluarga sendiri.
Berlaku adil atau tidak berat sebelah adalah hal mesti dijalankan oleh masing-masing pasangan agar tercipta suasana saling menghormati dalam rumah tangga.

"Tidak sempurna iman seseorang di antara kamu, sehingga mencintai saudaranya (keluarga, sahabat, dan sebagainya) seperti mencintai dirinya sendiri.", (HR. Muslim)

14. Memberi kesempatan kepada suami atau istri untuk menambah ilmu Kewajiban mencari ilmu melekat kepada siapa pun termasuk kepada suami isteri, sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah saw.

"Mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim.", (HR. Muslim)

6 langkah menuju keluarga sakinah

ini saya dapat dari blog tetangga juga...hmm lagi2 blog tetangga ya he2..
tapi ini saya intisarikan saja tentu dengan tidak mengubah arti dan maksud yang terkandung didalamnya ...
6 langkah menuju keluarga sakinah ? ini dia langkahnya :

1. Kupilih potret keluarga Rosulullah

Dalam Al Qur’an itu sudah digambarkan potret – potret keluarga yang akan selalu hadir sampai bumi ini Qiyamat (Silahkan buka QS Al Lahab dan QS At Tahrim sebagai rujukannya). Apa saja potretnya :

a. Potret Suami dan Istri yang kompak ingkarnya. Suami kafir dan istri juga kafir. ( bukan karena pepatah jawa Surgo Melu neroko Katut). Diantara banyak nominasi yang ada, potret ini di menangkan oleh keluarga Abu Lahab dan Istrinya. Padahal hidup semasa dengan Nabi Muhammad, bahkan pamannya lagi. Berapa banyak mukjizat yang ia saksikan tapi tetap tidak membuatnya beriman. Bahkan lebih giat mengumpulkan kayu bakar buat di neraka.

b. Potret suami yang sholeh dan istri yang salah (ingkar). Bahkan bukan hanya istrinya saja, tetapi anak – anaknya juga kafir dan ingkar terhadap seruan fitrah islam. Potret ini akan kita temui pada sosok keluarga Nabi Nuh dan Nabi Luth. Bagaimana istri dan putranya Kan’an telah dijak masuk ke dalam kapal tapi menolak dengan alasan akan selamat di puncak gunung yang akhirnya tenggelam juga bersama kekafiran mereka. Pun istri Nabi Luth yang mengumpankan tamu – tamunya (malaikat) kepada masyarakat Homo di lingkungannya.

c. Potret istri yang sholehah dan suami yang salah (ingkar). Ingatlah akan kisah Nabi Musa as. Akan kita temui potret Fir’aun yang ingkar beristrikan Aisiyah yang dalam do’anya kepada Allah meminta dibuatkan rumah di Syurga. Dialah Aisiyah ibunda angkat Nabi Musa as, yang menarik keranjang bayi dari sungai Nil dan memohon kepada Fir’aun agar bayi laki – laki ini tidak dibunuh. Potret keluarga seperti ini banyak kita temui dewasa ini disekitar kita. Istri yang taat, beribadahnya bagus bahkan berjilbab lebar tapi bersuamikan lelaki yang muslim tapi malas sholat, bahkan kadang berjudi atau minum minuman keras.

d. Potret keluarga single parents. Keluarga yang hanya diisi oleh istri saja. Potret ini diwakili oleh Maryam ibunda Nabi Isa. Hal ini diakibatkan oleh ketentuan Allah, entah karena mukjizat seperti Maryam atau karena ditinggal mati suaminya. Dan sekali lagi bukan karena si wanita ini doyan berzina dengan satu atau banyak lelaki, kemudian tidak ada lelaki yang mau bertanggungjawab sebagai ayah si bayi kemudian ia membesarkan anaknya sendiri seperti para artis – artis mesum itu. Namun fenomena ini sekarang menyebar ke masyarakat umum akibat wabah pergaulan bebas muda – mudi dan remaja.

e. Potret keluarga ideal, keluarga sakinah, keluarga dakwah. Potret ini ada pada diri suri tauladan kita yang terbaik yaitu Rosulullah dengan Khadijah. Sang suami sholeh, sang istri juga sholeh. Saling mengisi dalam kebahagiaan dan penderitaan kehidupan dakwah Islam.

Nah, jika ingin keluarga kita sakinah maka ambilah potret keluarga yang kelima yaitu keluarga Rosulullah sebagai contoh untuk diikuti.

2. Kulangkahkan kaki ini dengan basmallah

Prosedurnya adalah langkah pertama kita harus dengan Bismillah… karena nikah itu kan ibadah, dan amalan ibadah hanya akan diterima jika niatan kita untuk menggapai ridlo Allah.

Konsekuensinya adalah kita harus memilih pasangan kita yang bagus agamanya sebagai prioritas. Ya kalo ternyata sudah sholeh trus cantik/ganteng, trus kaya, trus pejabat terhormat de el el, maka anggap itu hanya ekses saja (dalam hati syukurnya setengah mati . . .)

Sehingga ketika pasangan kita sudah mulai keriput tidak indah lagi ya gak papa wong masih sholeh/ah. Trus andai pasangan kita sekarang jadi miskin yo gak papa yang penting masih sholeh/ah. Atau ternyata ketika pasangan kita sudah jadi orang biasa ya juga ngak perlu risau wong dia masih sholeh/ah, gitu …

3. Kupinang engkau dengan hamdallah

Tafsiran kupinang engkau dengan hamdalah adalah kita harus siap dengan kekurangan dan kelebihan pasangan kita masing – masing. Ya kalo pas ta’aruf belum tahu kalo tidurnya ngorok (sekalian ngiler) trus nanti kalo dah seranjang seperti tidur dengan kereta ya harus ikhlas. Atau dulu pas belum nikah sering bikin tulisan atawa acara romantis (yang ternyata EO nya temenya sendiri) trus habis akad ternyata kaku dan jutek maka juga harus ikhlas. Intinya apapun kekurangan pasangan kita kita harus sabar.

Ingat, kisah seorang istri yang cantik dan masih mdua bersuamikan lelaki yang jelek, ketus, kasar dan tua. Si istri selalu berkata dalam hatinya bahwa pernikahannya dengan lelaki itu adalah tiketnya masuk syurga. Hal ini atas kesabaran yang di lakukan. Bayangin aja gimana gak sabar, punya suami jelek, kasar, ketus… tua lagi. Nah begitupun sang suami. Pernikahannya itu dia jadikan pula sebagai tiket masuk syurga. Hal ini karena kesyukuran yang selalu dia panjatkan. Bagaimana gak syukur, punya istri muda, cantik, sholeh, nrimo lagi. Nah ternyata KESABARAN dan KESYUKURAN dalam kisah tadilah implikasi dari hamdallah itu …

Kemudian konsekuensi dari hamdalah itu juga adalah kita tidak boleh mengharapkan balasan atas apa yang kita kerjakan. Jangan sekali kali sang suami mengatakan saya sudah capek banting tulang, peras keringat cari nafkah untuk istrinya trus pulang kerja kok gak dibikinin kopi. Atau sang istri pun mengatakan sudah capek nyuci, masak dan ngurusin anak kayak pembantu masak minta baju baru buat lebaran saja gak dikasih sich. So, janganlah apa yang telah kita lakukan kita ungkit – ungkit pas kita meminta sesuatu. Cobalah memusyawarahkan segala keperluan rumah tangga dengan baik tanpa mengungkit – ungkit pemberian. Bisa kan !!

4. Kusahkan ikatan ini dengan Akad Nikah

Ingat, sahnya akad nikah jika semua rukun nikahnya terpenuhi. Apa saja? Mempelai pria, mempelai wanita, wali, mahar, saksi dan ijab qobul.

Tentunya kalo salah satu rukun itu gak ada pasti gak sah. Nah, yang sering terjadi adalah permasalahan pada wali. Karena kedua mempelai sudah kadung cinta katanya, tetapi ayah si wanita gak setuju maka jadilah istilah kawin lari (pake wali hakim). Hati – hati, jika ayahnya muslim, waras, dan masih hidup jangan coba – coba untuk memakai wali hakim saat beliau gak setuju dengan pernikahan kita. Implikasinya adalah nikah kita tidak sah yang artinya kita berzina seumur hidup, iiih ngeriii…

Kemudian jangan kesampingkan pencatatan di KUA. Nikah sirri memang sah secara agama tapi banyak kejadian keluarga akan kesulitan untuk mengurus hal administratif di kelurahan atau sekolah. Nah yang paling banyak dirugikan adalah pihak mempelai wanita dan anak – anak tentunya. Jangan sampai pas mendaftar sekolah, trus dimintai akte kelahiran kita jadi kelabakan. Karena untuk membuat akte kelahiran harus menyertakan fotokopi surat nikah. Tanpa surat nikah maka pada akte akan tertulis anak lahir di luar nikah, tanpa nama ayah disana.

5. Kulalui hari – hari pernikahan dengan laa haula wala quwwata ila billah

Bukalah mushofmu dan bacalah 2 ayat terakhir surat Al Baqoroh. Bahwasanya kita tidak akan dibebani dengan sesuatu yang kita tidak mampu. Jadi sepahit apapun derita yang saat ini kita lalui, maka Allah telah tetapkan bahwa kita pasti mampu untuk melaluinya. Maka ketika musibah datang kepada kita, maka kesabaranlah yang akan menjadi perisai kita untuk melaluinya. Jika ingin berkeluh kesah, maka bukan kepada teman, sahabat, orang tua, tetangga atau manusia manapun. Tapi kepada Allahlah engkau utarakan semuanya, curhatlah engkau pada-Nya. Tahajudlah …

Kemudian jika kebahagian, kemakmuran atau kegembiraan yang datang kepada kita. Maka ingatlah bahwa tanpa ijin dari Allah kita tidak akan dapat mendapatkannya. Sehingga tidak akan terlintas sedikitpun dalam dada kita ketakaburan, kesombongan dan ujub atas kesuksesan yang kita raih. Karena pada dasarnya kita hanya berusaha, dan Allah yang mengijabah do’a kita. Kita tak ada apa – apanya tanpa kehendak-Nya.

Sehingga disinilah nada kepasrahan kita dengungkan. Tiang tawakal kita tancapkan. Keikhlasan atas segala keputusan-Nya adalah pondasi atas apapun yang akan menimpa biduk rumah tangga kita kelak. Maka selalu ingatlah, tiada daya upaya tanpa ridlo dari Yang Maha Kuasa . . .

6. Kubimbing keluargaku dengan laa ilaa ha illallah

Ada tugas yang harus dipikul tiap keluarga. Suami adalah pemimpin bagi keluarganya, maka dia akan diminta pertangungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Istri adalah pemimpin bagi rumah tangganya, maka tiap jiwa akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Maka ajarkanlah keluargamu mengenal Allah. Bimbinglah mereka kepada fitrah manusia yaitu fitrah Islam.

Jika anak – anakmu lahir kelak. Hal pertama yang harus kau ajarkan adalah mengenal Allah. Yaa.. Ma’rifatullah. Bahwasanya tiada tuhan melainkan Allah. Dialah Dzat yang pantas untuk di sembah. Kepada-Nyalah bergantung segala sesuatu. Sehingga anak – anak kita kelak tidak akan takut dengan manusia – penguasa yang dzolim misalnya. Tidak akan terseret pada arus duniawi, kebebasan yang tanpa batas yang merusak dan fitnah – fitnah dunia lainnya.

Selanjutnya, jadikanlah keluargamu itu majelis ilmu. Utamakan ilmu agama terlebih dahulu baru ilmu dunia. Agar kita tidak menjadi orang pinter yang keblinger. Agar kita cerdas membedakan mana yang haq dan mana yang bathil.

InsyaAllah keluarga ini sakinah dan kelak akan masuk Jannah


Nah, jika keenam langkah itu kita lakukan. Maka dengan keijinan-Nya keluarga kita akan sakinah. Dan jika keluarga kita sakinah maka insyaAllah syurga adalah pelabuhan terakhir.